Bagaimana Cokelat Berubah Dari Mata Uang Aztec Menjadi Favorit Eropa

10

Cokelat bukan sekadar suguhan. Itu adalah artefak bersejarah yang dibungkus dengan kertas timah. Suku Aztec tidak hanya memakan kakao. Mereka memujanya. Legenda mengatakan Quetzalcoatl, ular berbulu, dewa angin, menurunkan biji kakao dari surga. Bagi masyarakat adat, ini bukanlah makanan ringan. Itu sakral.

Mereka mempersembahkannya kepada para dewa. Mereka memberikannya kepada raja. Penguasa Aztec dilaporkan meminum coklat setiap hari. Itu tidak dimakan sebagai batangan padat. Itu adalah ritual cair. Kacang tersebut sangat berharga sehingga dapat digunakan sebagai mata uang. Anda membutuhkan sepuluh kacang untuk seekor kelinci. Seratus kacang dibelikan seorang budak.

Orang Spanyol Melewatkan Intinya

Lalu datanglah Christopher Colombus. Lima ratus tahun yang lalu, dia mendarat di Guanaja, sebuah pulau di lepas pantai Honduras. Penduduk setempat menyambutnya dengan hadiah. Diantaranya ada sekarung biji coklat coklat. Columbus menatap mereka. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap mereka. Penduduk pulau tidak begitu saja menyerahkan produk mentahnya. Mereka menunjukkan kepadanya cara membuat tchocolatl. Mereka menggiling kacangnya. Mereka menambahkan rempah-rempah. Mereka bercampur dalam air.

Hasilnya adalah minuman yang berbusa, tajam, dan pahit. Rasanya tidak seperti coklat susu manis yang kita kenal sekarang. Columbus menyesapnya. Dia membencinya. Rasanya terlalu pahit. Terlalu aneh. Dia memunggungi kacang itu. Dia meninggalkan kekayaan.

Realisasi yang Lambat

Pemecatan Columbus bukanlah akhir dari cerita. Itu hanya sebuah penundaan. Tujuh belas tahun kemudian, pada tahun 1519, orang Spanyol yang berbeda tiba. Dia memandang kacang yang sama secara berbeda. Dia melihat nilai ketika Columbus tidak melihat apa pun. Ia menyadari potensi kakao. Momen itulah yang menjadi awal perjalanan coklat hingga ke kancah Eropa. Tapi itu bermula dari kesalahpahaman. Dan sebuah peluang yang terlewatkan.