Ilmuwan Berlomba Mengukur Kegembiraan pada Hewan

8

Selama beberapa dekade, para ilmuwan memperdebatkan apakah hewan selain manusia mengalami kegembiraan, atau “pengaruh positif”, sebagaimana mereka menyebutnya di kalangan ilmiah. Meskipun kita mengasumsikan hewan peliharaan kita dan makhluk lain merasakan kebahagiaan, hal ini membuktikan bahwa hal itu sulit dipahami. Kini, tim peneliti global sedang memulai proyek ambisius: mengembangkan “joy-o-meter” – seperangkat metrik terukur untuk mengukur kebahagiaan pada hewan.

Rintangan Sejarah

Studi tentang emosi hewan secara historis dikesampingkan oleh metodologi ilmiah. Behaviorisme awal abad ke-20, yang dicontohkan oleh anjing-anjing yang dikondisikan oleh Pavlov dan tikus-tikus yang menekan tuas dari Skinner, berfokus secara eksklusif pada tindakan-tindakan yang dapat diukur secara obyektif, dan secara efektif mengabaikan pengalaman subjektif seperti perasaan sebagai hal yang tidak ilmiah.

Meskipun emosi negatif – ketakutan, rasa sakit, penderitaan – dipelajari secara ekstensif (didorong oleh kebutuhan untuk menghilangkannya pada manusia dan hewan), pengaruh positif masih tabu. Keengganan ini berasal dari ketakutan terhadap antropomorfisme – menghubungkan kualitas manusia dengan entitas bukan manusia.

Namun, pionir seperti ahli saraf Jaak Panksepp menantang bias ini, dengan menunjukkan bahwa tikus mengeluarkan suara seperti tawa ketika digelitik, sebuah temuan yang pada awalnya ditanggapi dengan skeptis.

Dorongan Baru untuk Pengaruh Positif

Saat ini, para peneliti menyadari bahwa mempelajari kegembiraan bukan hanya tentang memahami kesejahteraan hewan; hal ini dapat membuka wawasan tentang kebahagiaan itu sendiri. Upaya saat ini, yang didanai oleh Templeton World Charity Foundation, bertujuan untuk menciptakan metrik universal yang dapat diterapkan pada beragam spesies.

Tantangannya sangat besar. Mengukur kebahagiaan tidak semudah mengidentifikasi respons rasa takut. Para peneliti pertama-tama harus mendefinisikan kegembiraan – sebuah emosi positif yang intens dan singkat yang dipicu oleh suatu peristiwa – dan kemudian mengidentifikasi indikator-indikator yang dapat diandalkan.

Eksperimen Utama: Kera, Burung Beo, dan Lumba-lumba

Tim ini melakukan eksperimen pada beberapa spesies, dimulai dengan kera besar karena kedekatan genetiknya dengan manusia. Studi di Proyek Simpanse Sabana Fongoli di Senegal dan kebun binatang di Belgia, Iowa, dan Florida menganalisis perilaku seperti interaksi yang menyenangkan, dandanan, dan vokalisasi untuk mencari tanda-tanda kegembiraan.

Para peneliti memicu “momen menyenangkan” melalui rangsangan baru. Bonobo di Ape Initiative di Des Moines memberikan respons positif terhadap rekaman tawa bayi bonobo, yang menunjukkan peningkatan rasa ingin tahu terhadap kotak abu-abu (berpotensi menandakan optimisme). Eksperimen rejeki nomplok, seperti suguhan kejutan atau reuni dengan penjaga, juga digunakan untuk mengamati reaksi.

Sementara itu, penelitian terhadap burung beo kea di Selandia Baru menghadapi rintangan yang tidak terduga: burung yang diternakkan tidak pernah mendengar suara kicau (“cekikikan” alami mereka) dan bereaksi dengan kesusahan, hal ini menyoroti kompleksitas dalam memicu kegembiraan dalam lingkungan yang terkendali. Para peneliti sekarang bereksperimen dengan rejeki nomplok dari makanan, seperti menawarkan selai kacang setelah serangkaian wortel yang kurang diinginkan.

Penelitian terhadap lumba-lumba, yang dipimpin oleh Heidi Lyn di Universitas South Alabama, juga sedang dilakukan, yang bertujuan untuk mengidentifikasi isyarat emosional serupa pada mamalia air.

Implikasi Jangka Panjang

Penelitian ini bukan hanya tentang memuaskan keingintahuan ilmiah. “Joy-o-meter” yang dapat diandalkan dapat merevolusi kesejahteraan hewan di penangkaran, memungkinkan pengayaan yang lebih baik dan mengurangi penderitaan. Yang lebih mendasar, penelitian ini mungkin dapat menjelaskan dasar biologis dari kebahagiaan antar spesies, dan berpotensi memberikan petunjuk mengenai kesejahteraan manusia.

Seperti yang dikatakan oleh biopsikolog Gordon Burghardt, “Apa yang membuat hidup menjadi baik? Itu adalah topik yang paling bermanfaat bagi kami.” Pencarian untuk mengukur kegembiraan pada hewan pada akhirnya dapat membantu kita memahami kegembiraan itu sendiri.