Warisan Harimau Tasmania yang Lebih Panjang: Seni Cadas Baru Mengungkapkan Kelangsungan Hidup di Daratan Australia

21

Penemuan arkeologi baru-baru ini di Arnhem Land, Australia, mengungkapkan bahwa harimau Tasmania – hewan berkantung karnivora yang kini sudah punah – kemungkinan besar bertahan di daratan lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Analisis baru terhadap seni cadas Pribumi kuno menggambarkan hewan-hewan ini bersama setan Tasmania, menunjukkan bahwa mereka berkembang biak di Australia utara hingga 1.000 tahun yang lalu. Hal ini menantang pemahaman konvensional mengenai garis waktu kepunahan mereka dan menyoroti peran penting pengetahuan masyarakat adat dalam membentuk kembali pemahaman kita tentang masa lalu.

Menulis Ulang Narasi Kepunahan

Selama beberapa dekade, garis waktu yang berlaku menyebutkan hilangnya harimau Tasmania dari daratan sekitar 3.000 tahun yang lalu, dan kehadiran terakhirnya yang dikonfirmasi di pulau Tasmania berakhir pada tahun 1936. Namun, temuan baru ini – yang didokumentasikan dalam jurnal Archaeology in Oceania – menggambarkan harimau Tasmania (harimau Tasmania) dan setan dalam seni cadas yang mungkin berusia kurang dari 1.000 tahun.

Studi tersebut mengidentifikasi sekitar 14 penggambaran harimau Tasmania baru dan dua gambar setan. Salah satu gambar setan, yang panjangnya kira-kira 1,3 kaki, memiliki gambar ikan di atas sebagiannya, menunjukkan bahwa karya seni tersebut tidak dibuat lama setelah hewan itu punah. Gambar setan lainnya yang lebih besar menunjukkan gigi tajam dan juga menampilkan seni ikan yang ditumpangkan. Penggambaran harimau bermacam-macam; beberapa menunjukkan garis-garis yang berbeda, sementara yang lain tidak, menunjukkan pilihan artistik daripada tidak adanya garis-garis pada hewan itu sendiri.

Mengapa Ini Penting: Menjembatani Sains dan Pengetahuan Adat

Ini bukan hanya tentang menulis ulang tanggal; ini tentang mengakui bahwa garis waktu ilmiah Barat sering berbenturan dengan sejarah lisan masyarakat adat. Masyarakat Aborigin di Arnhem Land telah lama menyimpan pengetahuan tentang makhluk-makhluk ini, termasuk cerita tentang harimau Tasmania sebagai “hewan peliharaan Ular Pelangi”, dewa yang kuat dalam sistem kepercayaan mereka. Seni cadas mendukung narasi ini, menunjukkan hubungan budaya yang lebih dalam yang melampaui sekadar observasi.

Penggunaan kaolin (pipa tanah liat) pada beberapa lukisan sangatlah penting. Kaolin memudar lebih cepat dibandingkan pigmen lain seperti oker merah, yang menyiratkan bahwa gambar-gambar ini dibuat lebih baru, kemungkinan besar oleh seniman yang melihat hewan-hewan ini hidup.

Signifikansi Budaya Selain Kelangsungan Hidup

Penemuan ini juga menyoroti pentingnya budaya hewan-hewan ini bagi masyarakat adat. Ada sekitar 150 penggambaran seni cadas harimau Tasmania yang terverifikasi di daratan Australia, dibandingkan dengan hanya 23 gambar setan. Hal ini menunjukkan bahwa harimau mempunyai pengaruh simbolis yang lebih besar dalam budaya Aborigin, mungkin terkait dengan kepercayaan spiritual atau praktik berburu.

Para peneliti berkolaborasi dengan komunitas Aborigin untuk menafsirkan makna penuh karya seni tersebut, termasuk kaitannya dengan upacara modern di mana hiasan kepala menyerupai yang digambarkan di dekat gambar harimau. Bahkan saat ini, harimau Tasmania tetap menjadi makhluk yang memiliki resonansi budaya bagi banyak orang di Oseania, bukan sekadar catatan kaki sejarah.

“Harimau Tasmania hidup…bukan sebagai hantu dari masa lalu namun sebagai makhluk bermakna yang masih memiliki relevansi saat ini,” para peneliti menyimpulkan.

Penelitian ini menggarisbawahi perlunya kolaborasi berkelanjutan antara para arkeolog, ilmuwan, dan masyarakat adat untuk membuka pemahaman yang lebih lengkap dan akurat tentang sejarah alam dan budaya Australia.