Kelinci Hainan yang Sangat Terancam Punah Dikonfirmasi di Lokasi Baru, Puluhan Tahun Setelah Penampakan Terakhir

21

Untuk pertama kalinya dalam 40 tahun, para ilmuwan telah memverifikasi keberadaan kelinci Hainan (Lepus hainanus ) yang terancam punah di wilayah habitat aslinya yang sebelumnya tidak terdokumentasikan… meskipun konfirmasi tersebut datang dalam bentuk spesimen yang mati di jalan. Penemuan ini, yang dirinci dalam penelitian baru-baru ini, menggarisbawahi keberadaan spesies yang berbahaya dan kemungkinan populasi yang terabaikan.

Penampakan Langka, Keadaan Suram

Para peneliti di Kadoorie Farm and Botanic Garden (KFBG) menemukan sisa-sisa kelinci yang diratakan selama penelitian lapangan di Pulau Hainan, Tiongkok selatan. Meskipun mengalami kerusakan parah, bangkai tersebut secara pasti diidentifikasi sebagai L. hainanus, spesies asli pulau ini dan salah satu lagomorph yang paling sedikit dipelajari secara global. Lokasi kematian kelinci di jalan – kira-kira 200 kilometer dari benteng terakhir kelinci yang diketahui – menunjukkan bahwa populasi sisa mungkin masih ada di timur laut Hainan.

Hal ini penting karena kelinci Hainan berada di ambang kepunahan. Persebarannya telah menyusut drastis sejak tahun 1970an karena hilangnya habitat dan perburuan. Penemuan kembali ini, bahkan dalam bentuk yang tragis, sangatlah penting karena hal ini berarti spesies tersebut mungkin tersebar lebih luas dari yang diperkirakan sebelumnya, meskipun hal ini juga menyoroti bahaya yang terus-menerus dihadapinya.

Dari Kelimpahan hingga Hampir Punah

Kelinci Hainan pernah berkembang biak di dataran rendah pesisir pulau itu, dengan perkiraan populasi 10.000 ekor pada tahun 1950an. Namun, pada akhir abad ke-20, populasinya menurun drastis. Sebuah laporan tahun 2008 memperkirakan hanya tersisa kurang dari 500 ekor, sehingga hewan ini masuk dalam Daftar Merah Tiongkok sebagai hewan yang “sangat terancam punah”. Saat ini, penampakan yang terkonfirmasi jarang terjadi bahkan di Cagar Alam Nasional Datian, yang merupakan habitat utama spesies tersebut.

Penurunan ini terkait langsung dengan aktivitas manusia. Ekspansi pertanian dan urbanisasi yang pesat telah menghancurkan habitat-habitat penting di dataran rendah, sementara perburuan yang tidak diatur semakin menghancurkan jumlah spesies tersebut. Perilaku kelinci di malam hari dan kesukaannya terhadap kawasan yang tidak dilindungi membuatnya sangat rentan.

Perlunya Tindakan Segera

Penulis penelitian menekankan bahwa catatan insidental seperti ini, dapat memandu upaya konservasi di masa depan. Kurangnya survei sistematis yang dilakukan saat ini membuat penilaian total populasi spesies ini menjadi tidak mungkin dilakukan secara akurat.

“Setiap catatan baru, bahkan catatan insidental sekalipun, dapat membantu menginformasikan survei di masa depan dan usulan tindakan konservasi.”

Survei di seluruh pulau sangat penting untuk memahami seluruh wilayah jelajah kelinci yang tersisa, mengidentifikasi ancaman utama, dan menerapkan strategi konservasi yang efektif. Tanpa data tersebut, spesies yang terancam punah ini berisiko punah tanpa disadari.

Penemuan kembali kelinci Hainan di lokasi baru merupakan pengingat akan ketahanannya dan pentingnya konservasi. Penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan bahwa spesies langka ini memiliki masa depan di pulau asalnya yang semakin menyusut.