Saat misi Artemis II mendekati tahap terakhirnya yang paling berbahaya—masuk kembali ke atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi—perdebatan mengenai keamanan pelindung panas pesawat ruang angkasa Orion semakin meningkat. Meskipun NASA menyatakan bahwa krunya aman, sekelompok ahli memperingatkan bahwa misi tersebut beroperasi di “tepi jurang”.
Masalah Inti: Kehilangan Char yang Tidak Terduga
Kekhawatiran utama berasal dari misi pendahulunya, Artemis I. Selama proses masuk kembali tanpa awak pada tahun 2022, pelindung panas kapsul Orion—terdiri dari bahan khusus yang disebut Avcoat —tidak berperilaku seperti yang diperkirakan. Alih-alih terkikis dengan mulus, perisai tersebut malah mengalami “kehilangan arang”, yang menyebabkan bongkahan besar materialnya pecah.
Investigasi NASA terhadap fenomena ini mengungkap paradoks teknis:
– Penyebabnya: Selama “skip reentry” yang digunakan di Artemis I, pesawat ruang angkasa memantul dari atmosfer, menyebabkan suhu berfluktuasi.
– Mekanisme: Pergeseran suhu ini menyebabkan gas menumpuk di dalam material Avcoat. Karena material tersebut tidak dapat “bernafas” atau mengeluarkan gas-gas ini secara efektif, tekanan internal meningkat, menyebabkan permukaan yang hangus retak dan mengelupas.
– Komplikasinya: Untuk mencegah hal ini, para insinyur sebelumnya telah membuat Avcoat kurang permeabel. Ironisnya, ini berarti perisai Artemis II bahkan kurang mampu mengeluarkan gas dibandingkan perisai yang mengalami masalah pada Artemis I.
Solusi NASA: Mengubah Jalur Penerbangan
Daripada mengganti pelindung panas, NASA memilih untuk mengubah cara pesawat ruang angkasa memasuki atmosfer. Ini adalah poros strategis dari pendekatan “lewati masuk kembali” ke pendekatan yang lebih langsung.
Alih-alih “melompat” seperti batu di atas air, Artemis II akan melakukan gerakan “loteng”. Ini melibatkan:
1. Sudut masuk yang lebih curam: Mengurangi waktu yang dihabiskan di bagian atmosfer yang paling bergejolak.
2. Pengurangan paparan: Meminimalkan siklus termal spesifik yang menyebabkan penumpukan gas pada misi sebelumnya.
“Kami mengubah profil misi… untuk memperhitungkan apa yang saya gambarkan sebagai ‘kekurangan’ pelindung panas saat ini,” kata Administrator NASA Jared Isaacman.
Komunitas Pakar yang Terbagi
Keputusan untuk melanjutkan jalur penerbangan yang dimodifikasi daripada penggantian perangkat keras telah memecah komunitas dirgantara menjadi dua kubu.
Kasus Keyakinan
NASA dan beberapa pengamat veteran berpendapat bahwa risiko tersebut dapat dikelola. Mereka menunjuk pada dua faktor utama:
– Redundansi Struktural: Para insinyur menyimpulkan bahwa meskipun lapisan Avcoat rusak secara signifikan, basis komposit Orion yang tebal dan kerangka titanium dapat memberikan perlindungan yang cukup untuk menjaga awak tetap hidup.
– Data Riwayat: Selama Artemis I, meskipun mengalami kerugian material, suhu internal tetap normal. Seandainya manusia berada di dalamnya, mereka akan aman.
Kasus yang Perlu Diwaspadai
Sebaliknya, beberapa mantan pegawai dan insinyur NASA, seperti Charles Camarda, tetap sangat skeptis. Argumennya adalah bahwa “spalling”—terputusnya bongkahan besar—menunjukkan sistem mendekati kegagalan baru jadi. Bagi para kritikus ini, mengandalkan perubahan jalur penerbangan untuk mengkompensasi kekurangan perangkat keras yang diketahui adalah langkah berbahaya tanpa adanya “Rencana B.”
Ringkasan Ketegangan
Misi Artemis II mewakili trade-off teknik klasik: mengelola keterbatasan perangkat keras yang diketahui melalui perubahan prosedural. Meskipun sejauh ini misi tersebut merupakan kemenangan teknis, misi masuk kembali terakhir akan menjadi ujian akhir apakah model matematika NASA benar-benar dapat melampaui realitas fisik dari tekanan termal yang ekstrem.
Kesimpulan: NASA mempertaruhkan nyawa empat astronot pada revisi lintasan masuk kembali yang dirancang untuk mengatasi kelemahan mekanis pelindung panas Orion. Apakah perbaikan prosedural ini merupakan solusi teknik yang brilian atau solusi yang berisiko masih harus dilihat pada tahap akhir.


























