Kebanyakan orang berasumsi fisika adalah bahasa yang terkunci di balik matematika dan jargon yang berat. Jeremy Bernstein membuktikan bahwa mereka salah. Lahir di Rochester, New York, pada tanggal 31 Desember 1929, ia menjadi salah satu dari sedikit suara yang dapat menjelaskan sains modern kepada pembaca awam tanpa merendahkan mereka. Dia tidak hanya mengajarkan mata pelajaran tersebut. Dia membuatnya bisa dimengerti.
Jalan Bernstein menuju kejelasan dimulai di Harvard, tempat ia memperoleh gelar Ph.D. pada tahun 1955. Pergerakan karir awal merupakan standar bagi seorang akademisi yang cemerlang. Dia bekerja di Harvard dan kemudian di Institute for Advanced Study di Princeton, New Jersey. Namun pada tahun 1962, ia telah ditetapkan sebagai profesor fisika di Universitas New York. Dua tahun kemudian, dia pindah ke Stevens Institute of Technology di Hoboken, New Jersey. Dia tinggal di sana selama sisa karirnya.
Pengaruhnya melampaui tembok kelas. Dia menulis untuk The New Yorker. Dia memegang janji di Swiss, Prancis, dan Pakistan. Dia mengajar di Amerika Serikat. Pengalaman global ini membentuk perspektifnya. Hal ini memberinya jarak yang dibutuhkan untuk melihat sains bukan sekadar persamaan, namun sebagai upaya manusia.
“Bernstein menjelaskan berbagai topik mulai dari kosmologi hingga asal usul komputer.”
Dia menjawab pertanyaan-pertanyaan besar. Bagaimana alam semesta dimulai? Dari mana komputer itu berasal? Ia tidak sekedar merangkum ilmu yang ada. Dia menjalinnya menjadi narasi yang melekat. Buku-bukunya tentang topik-topik ini menjadi bahan pokok bagi pembaca yang ingin memahami dunia tanpa tersesat dalam detail teknis.
Menulis untuk The American Scholar, dia mengelola kolom reguler berjudul “Out of My Mind.” Ini bukan hanya tentang sains yang sulit. Itu tentang sisi pribadi kehidupan intelektual. Kolom tersebut menunjukkan bagaimana seorang ilmuwan berpikir ketika lampu padam dan penilaian berhenti.
Pada tahun 1986, ia menerbitkan memoar otobiografi berjudul Kehidupan yang Dibawanya. Ini menelusuri perjalanannya dari seorang anak di Rochester hingga menjadi tokoh yang dihormati dalam komunitas ilmiah. Buku ini menawarkan gambaran langka tentang kehidupan seorang fisikawan yang menghabiskan karirnya mencoba menjembatani kesenjangan antara laboratorium dan ruang tamu.
Dia tidak mencari ketenaran. Dia mencari pengertian. Dan di dunia yang sering terpecah oleh kompleksitas, hal tersebut tetap menjadi hal yang langka dan berharga. Pertanyaan tentang bagaimana kita mengetahui apa yang kita ketahui masih ada pada kita. Dia memberi kami alat yang lebih baik untuk menanyakannya.